Sabtu, 26 November 2011

Khutbah Idul Adha 1432 H “Istiqomah Menjaga Kesholehan”

MASJID AL-HIDAYAH
JL. PONDOK BAMBU ASRI RAYA PONDOK BAMBU DUREN SAWIT JAKARTA TIMUR 13430
10  DZUL HIJJAH  1432 H / 06 NOPEMBER 2011 M

اَللهُ أَكْبَرْ ، اَللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ ...
Ma’asyirol Muslimin, jama’ah sholat Iedul Adha
Masjid Jami’ Al-Hidayah –semoga Allah senantiasa memberkahi dan merahmati kita semua– Aamiin..
Puji syukur kita haturkan kehadirat Allah –subhanahu wa ta’ala– karena atas izin dan kasih sayang-Nya, kita bisa kembali hadir di tempat ini. Rasanya baru kemarin kita berkumpul merayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan melawan nafsu. Hari ini kita berkumpul kembali berjam’ah melaksanakan shalat Idul Adha sebagai simbol persatuan kaum Muslimin. Hari Raya Idul Adha, adalah hari yang penuh berkah, hari ini adalah hari yang diagungkan Allah, hari ini Allah jadikan sebagai Yaumul Hajjil Akbar, dikatakan Al-Hajj Al-Akbar bukanlah karena disebabkan hari ‘Arafah jatuh bertepatan dengan hari Jum’at saja, tidak !, Al-Hajj Al-Akbar adalah hari raya Idul Adha itu sendiri. Hari raya Idul Adha dinamakan Al-Hajj Al-Akbar dikarenakan sebagian besar manasik Haji dilaksanakan pada hari tersebut, pada hari itu jamaah Haji melaksanakan Thawaf, melempar jumrah dan mencukur rambut.
Sehari sebelumnya, yaitu 9 Dzulhijjah berjuta-juta manusia dari berbagai penjuru dunia, dari pelosok negara dan benua, di bawah terik matahari yang menyengat, mereka berdesak-desakan dan berhimpit-himpitan berkumpul di Padang ‘Arafah dalam rangka memenuhi tuntutan amalan rukun haji.
اَللهُ أَكْبَرْ ، اَللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ ...
Hal ini dapat menggambarkan dan mengingatkan kepada kita semua, bahwa nanti setelah mayat-mayat dibangkitkan kembali dari kuburnya, seluruh manusia dan Jin semuanya akan digiring dan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Nanti sebagian orang yaitu para Nabi dan orang-orang yang bertaqwa, Allah kumpulkan mereka dalam keadaan berpakaian rapi, berkendaraan onta yang berpelanakan emas. Sebagian orang, para pelaku dosa besar di sana dalam keadaan telanjang bulat tidak beralas kaki. Orang-orang Kafir akan dikumpulkan oleh Allah, dalam keadaan telanjang bulat tidak beralas kaki dan dengan kepala di bawah, kepala digunakan untuk berjalan. Sebagian lagi, orang-orang yang sombong, orang-orang yang congkak di dunia, di Padang Mahsyar nanti bentuknya kecil-kecil, bahkan sekecil semut, meskipun kecil bentuknya tetapi tetap berbentuk manusia, mereka diinjak-injak tapi tidak mati-mati, sebagai balasan kesombongan mereka di dunia, sebagian orang sombong karena harta, sebagian orang sombong karena kedudukan, sebagian orang sombong karena keturunan dan lain sebagainya.
Di Padang Mahsyar sebagaimana Rosululloh sabdakan, matahari menjadi sangat dekat dengan kepala manusia, orang-orang nanti di sana sebagian keringatnya sampai ke lututnya, sebagian sampai ke dadanya, sebagian yang lain tenggelam oleh keringatnya, tanpa mengenai orang yang di sebelahnya. Namun ada beberapa orang  yang selamat dari siksaan-siksaan itu. Di antara mereka yang akan selamat dari terik panas matahari, sebagaimana sabda Rosulululloh –shallallahu 'alayhi wasallam– :
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ، وَذَكَرَ مِنْهُمْ :
وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ (متّفق عليه)
Maknanya : “Ada tujuh golongan yang akan dilindungi oleh bayangan ‘arsy, di mana ketika itu tidak ada naungan kecuali naungan ‘Arsy. Kemudian Rasulullah menyebutkan, salah satunya adalah remaja, pemuda yang tumbuh dan berkembang dalam ibadah dan taat kepada Allah”. (H.R. al Bukhari dan Muslim)
اَللهُ أَكْبَرْ ، اَللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ ...
Idul Adha mengingatkan kita pada sejarah Nabiyulloh Ibrahim dan Nabi Ismail –‘Alaihimas salam–, sudah sering kita mendengar uraian tentang ketabahan, keikhlasan dan pengorbanan mereka, bahkan kisah kesholehan seorang ayah dan anak ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’anul Karim.
Sekarang adalah tugas dan kewajiban kita untuk menjaga amanah Ilahi yaitu istri, anak dan cucu-cucu kita agar spirit dan ruh keshalehan, ketaatan maksimal hanya kepada Allah dan Rosul-Nya, sebab merekalah generasi penerus perjuangan kita di negara tercinta Indonesia ini.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib –Rodhiyallahu ‘Anhu– memberikan taushiyah kepada kita agar kita berjalan menuju pribadi yang sholeh dan sholihah.
عَنْ عَلِيّ رَضِيَ اللهُ تَعاَلىٰ لَوْلاَ خَمْسُ خِصَالٍ  لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ صَالِحِيْن أَوَّلُهَا الْقَناَعَةُ بِالْجَهْلِ وَالْحِرْصُ عَلىَ الدُّنْياَ وَالشُّحُّ بِالْفَضْلِ وَالرِّياَءُ فِي الْعَمَلِ وَاْلاِعْجَابُ بِالرَأْيِ
“Dari Ali bin Abi Tholib –Rodhiyallahu ‘Anhu– berkata : Seandainya manusia mau menghindari lima perkara tentunya mereka semua akan menjadi manusia yang sholeh :
1- Ridho dengan kebodohan, dengan kata lain tidak mau belajar terutama ilmu-ilmu agama, dengan kata lain tidak mau dekat dengan ulama, jauh dengan majlis ta’lim, karena sesungguhnya syetan itu lebih hawater, lebih takut kepada satu orang Alim saja yang sedang tidur dari pada seribu ‘Abid (orang yang melaksanakan ibadah) namun tidak tahu ilmunya.
     Rosululloh bersabda :
ثَلاَثَةٌ إِنْ عَاشُوْا عَاشُوْا سُعَدَاء، وَإِنْ مَاتُوْا مَاتُوْا شُهَدَاء
Maknanya :  Ada tiga orang yang jika hidup, hidupnya dalam keadaan  senang, bahagia, sejahtera dan jika mereka mati, matinya dalam keadaan syahid. اَلْمُحِبُّ لِـْلأَوْلِيآء yaitu orang yang cinta terhadap wali-wali Allah. اَلْمُحِبُّ لِلْعُلَمآء orang yang cinta terhadap Ulama’.  اَلْمُحِبُّ لِلصَّلاَةِ عَلىَ النَّبِيِّ  orang yang suka bershalawat kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam.
Sungguh tidak akan pernah bisa menjadi pribadi yang sholih dan sholihah kecuali yang mau belajar ilmu agama, ini merupakan pintu pertama terbukanya jalan menu pribadi yang sholih /sholihah lahir batin.
2- Sifat dan sikap ‘hubbud dunya’ yaitu berlebihan dalam mencintai harta dunia, matre, rakus dan tamak. Mencari harta dunia, mencintai dunia tidaklah dilarang dalam agama, asalkan tidak melebihi cinta kita kepada Allah dan rosul-Nya. Cobalah kita tengok sekarang ini di rumah-rumah tahanan, di penjara tidak sedikit orang-orang kaya dari hasil yang tidak halal. Sesungguhnya rasa takut kelaparan dan jatuh dalam kemiskinan itu selalu dihembuskan oleh syaitan, agar kita jadi orang yang kikir, agar kita memanfaatkan keadaan, mumpung masih berkuasa.. kapan lagi, kamu akan bisa kaya.. begitulah bisikan syetan. Allah berfirman : ﴾البقرة :268 ) Maknanya : “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu ber-buat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dan karunia. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengatahui.
Sungguh kekayaan harta duniawi tidak akan pernah langgeng, sebagaimana juga umur manusia,  pasti ada akhirnya. Apa yang kita lepaskan di jalan Allah, adalah harta kita yang sebenarnya yang akan kita petik pada kehidupan yang abadi nanti. Apa yang kita simpan-simpan, apa yang kita sayang-sayang, kita anggap investasi masa depan, ingatlah semuanya itu, di dunia saja manfaatnya belum tentu akan kembali kepada kita, atau bahkan ke keluarga kita.
Dikisahkan bahwa ada seorang syekh/ulama ketika dihidangkan kepadanya minuman berupa kopi, teh atau semacamnya, setelah beliau meminumnya selalu beliau sisakan teh atau kopi tersebut. Murid-muridnya mengira bahwa syekh ini memberikan sisa minuman itu kepada muridnya, mungkin agar muridnya mendapat keberkahan. Ternyata setelah ditanya kenapa anda selalu menyisakan minuman anda, kemudian syekh itu menjawab:
عَمَلاً بِحَدِيْثِ رَسُوْلِ الله : اِتَّقُو النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةْ
Aku memberikan sisa minuman itu tiada lain karena mengamalkan perintah Rasulillah jauhkan diri anda, bentengi diri anda dari neraka walaupun dengan sedekah hanya separuh kurma”.
3- Tidak peduli kepada sesama (pelit, penimbun harta) hadits Nabi :
مَا آمَنَ بِيْ مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ يَعْلَمُ بِهِ
(رواه البزار في سننه عن أنس) 
Maknanya: "Tidaklah beriman kepadaku (dengan sempurna) orang yang tidur dalam keadaan kenyang padahal tetangganya di sebelahnya kelaparan dan ia mengetahui hal itu".
(H.R. Al-Bazzar)
Pernah ada kisah pada masa pemerintahan Umar ibn Khottob ketika ada seorang yang melaporkan tetangganya karena dia telah mencuri makanan miliknya, kemudian Kholifah Umar ibn Khottob memanggil si pencuri dan hendak memberinya hukuman peringatan, si pencuri berkata :”Wahai Amir Mukminin, Demi Allah saya tidaklah mencuri untuk memuaskan nafsu saya, hanya karena saya benar-benar lapar, dan itu tetangga saya yang kaya raya tidak memberikan lapangan pekerjaan pada saya”. Seketika Kholifah Umar ibn Khottob berpaling kepada orang yang mengadu tadi berkata :”Benarkah begitu?”, orang yang mengadu tadi mengiyakan, lalu Kholifah Umar ibn Khottob berkata :”Maafkanlah, berikan dia pekerjaan”.
Sungguh sikap dan sifat ‘peduli kepada sesama’ akan menghantarkan kita menuju kepada pribadi yang sholih, sholihah lahir dan batin.
4- Tidak Ikhlas karena Allah (riya’)
﴿وَمآ أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنِ لَهُ الدِّينْ﴾ البينة :5
Maknanya : “Dan mereka hanya di-perintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas”. (Al-Baiyinah 5)
Maka ketika seseorang mempunyai niat ganda. Niat memperoleh pahala, melaksanakan perintah Allah –subhanahu wa ta’ala– serta niat agar dipuji orang maka ia tidak akan mendapatkan pahala sedikitpun dari ibadah yang dia laksanakan. Diriwayatkan suatu ketika Rasulullah -shallallahu ‘alayhi wasallam- ditanya oleh salah seorang sahabat :
يَا رَسُوْلَ اللهِ رَجُلٌ يَغْزُوْ يَبْتَغِيْ بِذٰلِكَ الأَجْرَ وَالذِّكْرَ، مَالَهُ ؟
Maknanya :“Wahai Rasulullah, jika seseorang berjihad, berperang di jalan Allah dia berharap mendapat pahala dari Allah sekaligus berharap nantinya namanya diingat-ingat, disebut-sebut sebagai syahid, sebagai pahlawan Islam, oleh orang, apa yang akan dia peroleh ?”, Rasulullah menjawab : لاَ شَيْءَ لَهُ “Dia tidak akan memperoleh pahala apapun”, sahabat tersebut mengulangi pertanyaan-nya sampai tiga kali, Rasulullah pun menjawab dengan jawaban yang sama sampai tiga kali pula dan melanjutkan sabda beliau :
لاَ شَيْءَ لَهُ، إِنَّ  اللهَ  لاَ يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ خَالِصًا لَهُ وَمَا ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
“Dia tidak akan memperoleh pahala apapun, sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal ibadah siapapun, kecuali amal ibadah yang murni karena-Nya dan hanya untuk mencari ridla-Nya”.  
5- Yang terakhir pesan Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib –Rodhiyallahu ‘Anhu–, agar kita menjauhi sifat dan sikap egois, merasa hanya pendapatnya saja yang benar, selain pendapat saya adalah salah dan sesat. Sifat dan sikap seperti ini justru menjauhkan seseorang dari pribadi yang sholih dan sholihah. Suatu ketika Rosululloh -shallallahu ‘alayhi wasallam- dalam sebuah peperangan melawan orang kafir mengatur strategi, pasukan panah berada di sini, pasukan berkuda di sebelah sana dan pasukan pedang disebelah sini. Tiba-tiba seorang sahabat mengatakan :”Wahai Rosululloh apakah strategi ini wahyu Allah atau pendapat anda?”, Rosul menjawab :”Ini pendapatku, terus kenapa?” sahabat itu menjawab :”Menurut saya begini, begini”, Rosululloh mendengarkan dengan seksama, manusia paling utama, paling mulia di dunia dan akhirat itu sedikitpun tidak merasa tersinggung, tidak merasa terhina, tidak merasa rendah diri, tidak merasa harga dirinya jatuh karena pendapat dan idenya ada yang menyangkal. Ternyata sahabat itu adalah Umar ibn Khottob bahkan Rosululloh memuji kecerdasan Umar, beliau bersabda :
لَوْ كَانَ نَبِـيًّا مِنْ بَعْدِيْ لَكَانَ عُمَرْ، غَيْرَ أَ نَّنِيْ خَاتَمُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْن
“Seandainya ada nabi setelahku, itu adalah umar, hanya saja akulah penutup para nabi dan rosul”.  
اَللهُ أَكْبَرْ ، اَللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ ...
Ma’asyirol Muslimin, rohima kumulloh..
Mari kita mulai dari setiap diri kita masing-masing, menjaga amanah Allah anak dan istri kita, mendidik mereka agar menjadi anak-anak yang sholeh, istri yang sholehah, sebagaimana Nabi Ibrahim mendidik Istrinya Sarah dan Hajar menjadi istri-istri yang sholihah dan Ismail anak yang sholeh. Berawal satu keluarga yang sholeh insya Allah akan terbentuk masyarakat yang sholeh dan dari masyarakat yang sholeh diharapkan terwujudnya negara yang Baldatun Thoiyibatun wa Robbun Ghofur sehinga keberkahan hidup di negeri ini akan didatangkan Allah –Subhaanahu Wata’ala–, Allah berfirman :
﴾الأعراف 96) Maknanya : “Kalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu mereka beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tatapi bilamana mereka mendustakan ayat-ayat kami, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri”.
Demikianlah materi khutbah Idul Adha ini saya sampaikan, mudah-mudahan terkandung pelajaran, hikmah dan manfaat di dalamnya. Amiin.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ، كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْر.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ َوَبَرَكَاتُهُ.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar